altimage
INTP:IJ Rp. 20.050 altimage 0,75%
20-Nov-2017 16:57
altimage
INTP:IJ Rp. 20050 altimage 0.75%
20-Nov-2017 16:57

Tinjauan Keuangan

Pendapatan Perseroan berasal dari penjualan semen, RMC dan agregat. Biaya penjualan tersebut terutama terdiri dari biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, bahan bakar dan listrik, biaya overhead pabrikasi, dan pengepakan. Sebagai tambahan untuk beban pokok penjualan, Perseroan menempatkannya pada beban usaha, mayoritasnya adalah beban penjualan yang merupakan biaya yang berhubungan dengan pengiriman, bongkar muat dan transportasi barang serta biaya-biaya umum dan administrasi yang terkait dengan operasi bisnis Perseroan.

Laporan Laba (Rugi)

Pendapatan Neto
Perseroan membukukan penurunan volume penjualan domestik sebesar 2,9% pada 2016. Penurunan volume penjualan ini terutama disebabkan oleh menurunnya permintaan akan semen.

Hasilnya, total pendapatan neto mengalami penurunan sebesar 13,7% dibandingkan 2015.

Perincian pendapatan Perseroan sesuai segmen usaha dan daerah penjualan adalah sebagai berikut:

Semen
Semen tetap menjadi produk utama Perseroan, yang menyumbang sekitar 86,0% dari total pendapatan neto sebelum eliminasi. Pada 2016, pendapatan dari semen mencapai Rp14.102,6 miliar, turun 13,1% atau sebesar Rp2.117,3 miliar dari Rp16.219,9 miliar di 2015. Penurunan pendapatan dari semen ini disebabkan oleh penurunan penjualan semen sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Dari sisi volume, penjualan Perseroan lebih rendah 1,9% dibanding tahun lalu.

Beton Siap-Pakai (RMC)
Pada 2016, penjualan RMC menyumbang sebesar 13,2% terhadap total pendapatan neto sebelum eliminasi. Pendapatan dari RMC sebesar Rp2.167,0 miliar menurun sebesar 15,0% dari Rp2.548,6 miliar di 2015.

Penurunan pendapatan dari RMC ini disebabkan oleh penurunan volume penjualan sebesar 11,5% karena menurunnya permintaan dari proyek-proyek komersial milik swasta.

Tambang Agregat dan Trass
Pendapatan Tambang Agregat dan Trass menyumbang sebesar 0,8% terhadap total pendapatan neto sebelum eliminasi di 2016, yaitu sebesar Rp126,7 miliar, naik sebesar 5,6% dari Rp120,0 miliar di 2015.

Kenaikan pendapatan dari agregat dan trass ini disebabkan oleh kenaikan volume penjualan sebesar 3,8% dibandingkan dengan 2015.

Pendapatan Perseroan pada 2015 terutama disumbangkan oleh penjualan di Pulau Jawa sebesar 76,4%, diikuti penjualan dari Luar Jawa dan Ekspor masing-masing sebesar 22,0% dan 1,6%. Hal ini sejalan dengan strategi Perseroan tahun 2016 untuk fokus pada penjualan di home market.

Beban Pokok Pendapatan
Total beban pokok pendapatan Perseroan 2016 adalah sebesar Rp9.030,4 miliar, turun 8,7% atau Rp858,5 miliar dari Rp9.888,9 miliar di 2015. Penurunan ini terutama disebabkan karena menurunnya total beban pabrikasi sebesar 7,8% menjadi Rp8.390,1 miliar dari Rp9.101,7 miliar pada 2015.

Beban pabrikasi ini mendominasi 92,9% dari total beban pokok pendapatan Perseroan dan mencakup bahan baku yang digunakan, upah buruh langsung, bahan bakar dan listrik, serta beban pabrikasi, sebagaimana tercantum dalam tabel di bawah ini. Hal tersebut menunjukkan keberhasilan upaya Perseroan dalam menerapkan langkah efisiensi biaya dalam produksi dan beban lainnya semaksimal mungkin.

Adapun perincian mengenai beban pokok pendapatan Perseroan adalah sebagaimana tabel berikut:

Laba Bruto
Perseroan membukukan laba bruto sebesar Rp6.331,5 miliar, turun 19,9% atau setara Rp1.577,7 miliar dari Rp7.909,1 miliar pada 2015.

Penurunan laba kotor ini terutama disebabkan oleh penurunan total pendapatan dan penjualan Perseroan sebagaimana telah diuraikan sebelumnya.

Beban Usaha
Beban usaha Perseroan terdiri dari beban penjualan dan beban umum dan administrasi.

Beban penjualan terdiri dari pengangkutan, bongkar muat dan transportasi, gaji, upah dan kesejahteraan karyawan dan lain-lain.

Beban umum dan administrasi terdiri dari gaji, upah dan kesejahteraan karyawan, honorarium tenaga ahli, sewa dan lain-lain.

Pada 2016, beban usaha Perseroan tercatat sebesar Rp2.713,9 miliar, turun 5,8% atau setara Rp165,9 miliar dari Rp2.879,7 miliar yang terutama merupakan penurunan dalam beban penjualan yang mendominasi 75,5% dari beban usaha Perseroan di 2016 sebagaimana ditunjukkan dalam tabel berikut:

Beban Penjualan
Pada 2016, beban penjualan Perseroan tercatat sebesar Rp2.049,4 miliar, turun 6,3% atau setara Rp137,2 miliar dari Rp2.186,6 miliar di 2015 yang terutama merupakan penurunan dalam beban pengangkutan, bongkar muat dan transportasi yang mendominasi 85,6% dari beban penjualan Perseroan di 2016 sebagaimana ditunjukkan dalam tabel berikut:

Beban Umum dan Administrasi
Pada 2016, beban umum dan administrasi Perseroan tercatat sebesar Rp664,5 miliar, turun 4,1% dari Rp693,2 miliar pada 2015, yang antara lain disebabkan oleh penurunan pada hampir seluruh pos beban umum dan administrasi, sebagaimana ditunjukkan dalam tabel berikut:

Laba Usaha
Perseroan membukukan laba usaha sebesar Rp3.644,6 miliar pada 2016, mengalami penurunan sebesar 27,9% dibandingkan Rp5.056,9 miliar pada 2015.

Beban Pajak Penghasilan
Beban pajak penghasilan - neto Perseroan sesuai laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain konsolidasian adalah sebesar Rp275,3 miliar, turun 78,6% dari Rp1.287,9 miliar pada 2015.

Laba Tahun Berjalan
Pada 2016, laba tahun berjalan Perseroan adalah sebesar Rp3.870,3 miliar, mengalami penurunan sebesar 11,2% dari Rp4.356,7 miliar pada 2015.

Hasilnya, total penghasilan komprehensif tahun berjalan 2016 tercatat sebesar Rp3.800,5 miliar, turun 10,8% dibandingkan tahun 2015 sebesar Rp4.258,6 miliar.

Laba per saham dasar menjadi Rp1.051,37 di 2016, turun 11,2% dari Rp1.183,48 di 2015.

Laporan Posisi Keuangan Konsolidasian

Aset
Total Jumlah aset Perseroan pada tanggal 31 Desember 2016 adalah sebesar Rp30.150,6 miliar, naik 9,1% dari Rp27.638,4 miliar di 2015, sebagaimana ditunjukkan dalam tabel berikut:

Aset Lancar
Total aset lancar tercatat sebesar Rp14.424,6 miliar pada 2016, tumbuh 9,8% atau Rp1.290,8 miliar dari Rp13.133,9 miliar pada 2015.

Kenaikan total aset terutama disebabkan oleh kenaikan kas dan setara kas sebesar 11,8%, dimana kas dan setara kas mendominasi 67,1% dari total aset lancar Perseroan.

Aset Tidak Lancar
Pada 2016, total aset tidak lancar mencapai jumlah sebesar Rp15.726,0 miliar, tumbuh 8,4% dari Rp14.504,5 miliar pada 2015.

93,1% dari aset tidak lancar adalah Aset Tetap.

Peningkatan ini terutama disebabkan oleh penambahan aset tetap sebesar 6,0% menjadi Rp14.643,7 miliar dari Rp13.813,9 miliar, terutama sehubungan dengan pembangunan fasilitas produksi tambahan dan produksi baru Perseroan yang sedang berjalan.

Liabilitas
Pada tanggal 31 Desember 2016, total liabilitas mencapai Rp4.011,9 miliar, naik 6,3% dari Rp3.772,4 miliar pada 2015.

Kenaikan ini disebabkan terutama oleh kenaikan liabilitas jangka pendek sebesar 18,6% menjadi Rp3.187,7 miliar dari Rp2.687,7 miliar.

Liabilitas Jangka Pendek
Pada tanggal 31 Desember 2016, jumlah liabilitas jangka pendek sebesar Rp3.187,7 miliar, naik 18,6% dibandingkan dengan Rp2.687,7 miliar pada 2015. Kenaikan ini terutama disebabkan peningkatan utang usaha kepada pihak ketiga.

Liabilitas Jangka Panjang
Pada tanggal 31 Desember 2016, total jumlah liabilitas jangka panjang adalah Rp824,1 miliar, turun 24,0% dari Rp1.084,7 miliar pada 2015.

Penurunan ini terutama disebabkan oleh tidak adanya liabilitas pajak tangguhan pada 2016, sementara di tahunan sebelumnya terdapat liabilitas pajak tangguhan sebesar Rp323,5 miliar. Selain itu juga terdapat penurunan Utang Sewa Pembiayaan sebesar 39,2% sebagaimana ditunjukkan tabel berikut:

Ekuitas
Total ekuitas pada tanggal 31 Desember 2016 sebesar Rp26.138,7 miliar, meningkat 9,5% dibandingkan total ekuitas tahun 2015 sebesar Rp23.866,0 miliar.

Kenaikan ini terutama disebabkan oleh peningkatan saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya sebesar 12,1% dari Rp19.165,9 miliar di 2015 menjadi Rp21.483,5 miliar di 2016. Kinerja ekuitas yang kuat dari Perseroan dibuktikan dengan pertumbuhan yang berkelanjutan dan keberlangsungan usahanya.

Kas Neto Diperoleh dari Aktivitas Operasi
Perseroan mencatat kas neto yang diperoleh dari kegiatan operasi sebesar Rp3.546,1 miliar pada 2016, turun 29,8% dari Rp5.049,1 miliar pada 2015. Angka ini terutama berasal dari penurunan penerimaan dari pelanggan.

Sedangkan dari sisi arus kas keluar, Perseroan membelanjakan kas sebesar Rp11.493,7 miliar untuk pembayaran kepada pemasok dan kontraktor, serta gaji dan kesejahteraan karyawan. Sementara itu, sejumlah Rp754,2 miliar dikeluarkan untuk pembayaran pajak penghasilan badan dan Rp1.788,5 miliar untuk pembayaran pajak lainnya.

Kas Neto Digunakan untuk Aktivitas Investasi
Total kas bersih yang digunakan untuk kegiatan investasi pada 2016 adalah sebesar Rp974,0 miliar, turun 63,9% dari Rp2.696,7 miliar pada 2015. Penurunan ini disebabkan karena menurunnya perolehan aset tetap dari Rp2.670,3 milliar pada 2015 menjadi Rp910,3 milliar pada 2016.

Kas Neto Digunakan untuk Aktivitas Pendanaan
Perseroan mencatat total kas neto yang digunakan untuk kegiatan pendanaan sejumlah Rp1.547,2 miliar pada 2016, turun 69,0% dari Rp4.993,3 miliar pada 2015. Jumlah kas bersih ini terutama digunakan untuk pembayaran dividen tunai 2016 sebesar Rp1.527,2 milliar.

Kas dan Setara Kas
Jumlah kas dan setara kas Perseroan pada 2016 sebesar Rp9.674,0 miliar, naik 11,8% dari Rp8.655,6 miliar pada 2015.

Perseroan tetap memiliki jumlah saldo kas yang memadai untuk mencapai sasaran pertumbuhan pada 2017 dan seterusnya.

Rasio Keuangan

Profitabilitas
Rasio profitabilitas Perseroan masih kokoh dengan marjin laba bruto sebesar 41,2% serta marjin EBITDA sebesar 30,3%. Profitabilitas pada 2016 menghasilkan imbal hasil atas aset sebesar 13,4% dan imbal hasil atas ekuitas sebesar 15,5%, yang mana keduanya merupakan tingkat pengembalian yang menggembirakan mengingat kondisi pasar dan ekonomi makro Indonesia yang penuh tantangan pada 2016.

Solvabilitas
Perseroan Perseroan mempertahankan tingkat solvabilitas yang sangat tinggi dimana rasio lancar pada 2016 adalah sebesar 453% dibandingkan 489% pada 2015. Hal ini tidak saja memastikan solvabilitas Perseroan untuk memenuhi segala liabilitas yang jatuh tempo, namun juga memposisikan Perseroan dengan saldo kas yang kuat guna mendanai seluruh belanja modal dari arus kas internal bila diperlukan.

Melengkapi rasio lancarnya yang kuat, Perseroan mencatat rasio liabilitas terhadap ekuitas sebesar 0,4% serta rasio liabilitas terhadap aset sebesar 0,4% pada 2016 dibandingkan dengan masing-masing 0,5% dan 0,4% pada 2015.

Utang Perseroan
Perseroan tidak memiliki utang. Rasio kas terhadap aset adalah 32,1% pada akhir 2016, dibandingkan dengan 31,3% pada akhir 2015.

Piutang Usaha dan Kolektabilitas
Pada akhir 2016, Perseroan memiliki piutang usaha sebesar Rp2.605,3 miliar, naik 2,8% dari Rp2.534,7 miliar pada 2015.

Dari piutang usaha pada 2016, sejumlah Rp1.630,9 miliar atau 60,6% dari jumlah tersebut memiliki klasifikasi lancar, sementara 19,1% telah melewati jatuh tempo antara 1–60 hari, 9,6% antara 61–180 hari, 3,7% antara 181–365 hari, dan 7,0% telah jatuh tempo lebih dari 365 hari.

Guna mengantisipasi kemungkinan tidak terbayarkannya piutang usaha, Perseroan telah menambahkan cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp86,1 miliar dibandingkan Rp54,8 miliar pada 2015. Berdasarkan hasil penelaahan kolektibilitas akun piutang usaha pada akhir tahun, Perseroan berkeyakinan bahwa cadangan kerugian penurunan nilai atas piutang usaha diatas adalah cukup.

 

 

42 Tahun Membangun Indonesia KOKOH