Happy Eid Mubarak 1431H, Minal Aidin Wal Faidzin...Indocement 35th Anniversary, August, 2010...Indocement is the first company in South-East Asia to have received a CER on its own CDM project under the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC)...Indocement (Citeureup factory) has been given an award as a company that managed to reach the highest rank, namely Gold Rating for PROPER 2008-2009, while Indocement (Palimanan factory) has been given Green Rating...Indocement shares (INTP) were traded (07/09) at Rp18.400/share, decrease Rp200 (-1.08%)...Indocement distributes 27 tons of rice (Pakuan Raya 1 September 2010)...Indocement market expands 11.5% (Media Indonesia.com 31 August 2010 14:12 WIB)...Indocement breaks fast together with 600 residents (Jurnal Bogor, 27 August 2010...6 mosques receive assistance from PT ITP (Kabar Banten, 20 August 2010...Indocement Receives 2 Awards at Indonesia Green Awards 2010...Indocement Reaches the First Place at SGS Annual Award...Stronger domestic demand boost Indocement first half profit (Tempo Interactive 30 July 2010 18:07 WIB)...Indocement initiates clean up campaign (Antara 31 July 2010)...Celebrating its 35th anniversary, Indocement inaugurates its Sanitation Service Unit and Arts & Culture House at Indocement’s Citeureup factory in Gunungsari village - Radar Bogor (24/7), Jurnal Bogor (25/7)...To celebrate Indonesia’s 35th Independence Day, Indocement organizes a creativity competition for elementary school students from 12 villages in the surrounding communities Citeureup Factory - Pakuan Raya (24/07)...Indocement was awarded "Indonesia Best Public Companies 2010" from SWA Magazine & Stern Steward & Co. Management Consultant...Indocement Citeureup Factory trains 60 Public Protection (Linmas) officers from 12 cultivated village, Radar Bogor (21/07)... English 
halaman utama > berita > siaran pers
30 Juli 2009 - Indocement – Hasil Luar Biasa Karena Efisiensi Biaya

• Permintaan domestik yang lemah
• Marjin yang lebih baik karena efisiensi biaya sesuai rencana
• Pertumbuhan laba usaha, EBITDA dan laba bersih yang subtansial
• Neraca keuangan yang kuat
• Proyek-proyek infrastruktur mendatang diharapkan dapat memulihkan permintaan semen domestik

Permintaan domestik yang lemah

Ikhtisar Keuangan Semester Pertama 2009

Dampak krisis keuangan yang dimulai pada kuartal terakhir 2008 telah mengakibatkan melemahnya permintaan domestik di beberapa kota besar di Pulau Jawa karena sebagian besar pemukiman baru dan gedung bertingkat memperlambat atau menunda kegiatan konstruksinya. Oleh karena itu, permintaan semen nasional menurun sebesar 7,0% dan volume penjualan domestik PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. ( "Perseroan") turun 14,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hal ini mengakibatkan penurunan pangsa pasar di semester pertama 2009 menjadi 29,7% dari 32,5% pada semester pertama 2008. Namun, volume penjualan domestik Perseroan di bulan Juni telah menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya dan hal ini merupakan sinyal positif bagi Perseroan. Total volume penjualan pada semester pertama 2009 adalah sebesar 6,1 juta ton atau lebih rendah 17,7%. (tahun sebelumnya: 7,4 juta ton).

Volume penjualan ekspor turun sebesar -33,5% menjadi 0,8 juta ton pada semester pertama 2009 (tahun sebelumnya: 1,2 juta ton) karena lemahnya pasar regional dalam empat bulan pertama 2009. Namun diluar perkiraan volume penjualan ekspor melonjak di bulan Mei dan keadaan tersebut diperkirakan akan cenderung berlanjut sampai akhir tahun.

Marjin yang lebih baik karena efisiensi biaya sesuai rencana

Manajemen berhasil mencapai marjin yang lebih baik pada semester pertama 2009 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, terutama disebabkan oleh keberhasilan Perseroan dalam mengontrol tingginya kenaikan biaya di hampir semua aspek operasional. Kunci keberhasilan adalah kemampuan Perseroan untuk mengoperasikan kiln yang paling efisien (dimana kita menghentikan operasi beberapa kiln yang tidak efisien karena melemahnya permintaan) dan melakukan kontrol yang ketat pada biaya tetap, termasuk biaya perbaikan dan biaya pemeliharaan.

Walaupun biaya produksi per ton meningkat sebesar 17,6%, kami berterima kasih atas keberhasilan efisiensi biaya terutama dalam pengelolaan biaya tetap yang lebih rendah serta proporsi penjualan atau “sales mix” yang lebih baik (volume penjualan domestik yang lebih tinggi dibandingkan tahun lalu), marjin laba kotor meningkat menjadi 47% dari 41% atau sebesar Rp2.241 miliar (tahun sebelumnya: Rp1.850 miliar).

Beban usaha turun sebesar -15,4% menjadi Rp613 miliar (tahun sebelumnya: Rp725 miliar) seiring dengan turunnya volume penjualan serta menurunnya biaya logistik. Oleh karena itu, laba usaha naik dari 44,7% menjadi Rp1.628 miliar (tahun sebelumnya: Rp1.125 miliar), sedangkan margin laba usaha naik menjadi 34% dari 25%.

EBITDA juga meningkat sebesar 34,0% menjadi Rp1.898 miliar (tahun sebelumnya: Rp1.416 miliar). Dengan demikian marjin EBITDA naik menjadi 40% dari 32%.

Karena rendahnya tingkat utang saat ini (hanya USD25 juta), beban bunga dan beban keuangan lainnya berkurang sebesar -60,1% menjadi Rp30 miliar dari Rp76 miliar. Di sisi lain, sebagai akibat dari depresiasi Rupiah, Perseroan mengalami rugi kurs sebesar Rp33 miliar dibandingkan dengan laba kurs sebesar Rp18 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Laba bersih meningkat sebesar 51,8% menjadi Rp1.172 miliar (tahun sebelumnya: Rp772 miliar).

Neraca Keuangan yang kuat

Pada tanggal 30 Juni 2009, Perseroan terus membukukan posisi kas bersih (net cash)
dengan kas dan setara kas senilai Rp1.137 miliar. Upaya manajemen untuk meningkatkan manajemen modal kerja juga merupakan salah satu kunci untuk mencapai neraca yang kuat dan sehat.

Belanja modal untuk sepanjang tahun 2009 diperkirakan sekitar USD75-80 juta, termasuk pabrik semen baru di Cirebon dengan kapasitas 1,5 juta ton yang direncanakan akan selesai akhir tahun 2009. Belanja modal pada semester pertama 2009 adalah Rp151 miliar dibandingkan dengan Rp237 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Perseroan tidak merencanakan belanja modal untuk keperluan ekspansi dalam waktu dekat dikarenakan kapasitas produksi Perseroan saat ini lebih dari cukup untuk memasok kebutuhan pasar.

* disetahunkan

Proyek-proyek infrastruktur mendatang diharapkan akan memulihkan permintaan semen domestik

Daniel Lavalle selaku Direktur Utama Perseroan menyatakan:

"Pasar semen nasional mengalami pertumbuhan negatif sebesar -7% pada semester pertama 2009. Namun, kita dapat melihat adanya peningkatan permintaan pada bulan Juni yang memberikan sinyal positif untuk bulan mendatang ditahun 2009. Rencana pemerintah untuk membelanjaan proyek-proyek infrastruktur serta tingkat suku bunga yang rendah saat
ini merupakan kunci utama dalam meningkatkan permintaan semen domestik dalam waktu dekat. Dengan adanya kelebihan kapasitas produksi saat ini, Perseroan memiliki posisi yang kuat untuk memasok kebutuhan semen domestik yang diperkirakan akan pulih segera ".

Jakarta, 29 Juli 2009

Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi:

Dani Handayani – Corporate Secretary
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.
Wisma Indocement, Lantai 8
Jl. Jenderal Sudirman Kav.70-71
Jakarta 12910
Telepon : (021) 2512121
Faksimili : (021) 2510066


Download pdf version       Print this page