|
24 Maret 2009 - Indocement – Hasil yang Sangat Memuaskan di Tahun 2008
• Pertumbuhan penjualan semen domestik yang sangat kuat • Kenaikan biaya produksi yang luar biasa, namun masih dapat dikendalikan • Kenaikan laba usaha, EBITDA, dan laba bersih yang signifikan • Proyek Mekanisme Pembangunan Bersih yang sukses dengan diterimanya pembayaran pertama dari Bank Dunia • Neraca keuangan yang kuat dan sehat • Perlambatan rencana ekspansi dan investasi • Penjualan semen domestik diperkirakan akan mengalami pertumbuhan negatif sebesar minus 6% di tahun 2009
Pertumbuhan Penjualan Domestik yang Sangat Kuat di Tahun 2008
Ikhtisar Keuangan Tahun 2008

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (“Perseroan”) membukukan volume penjualan domestik tertinggi dalam sejarah Perseroan, yaitu sebesar 12,3 juta ton di tahun 2008, atau 15% lebih tinggi dari penjualan tahun 2007 sebesar 10,7 juta ton. Pada saat yang sama, penjualan nasional tumbuh lebih rendah, yaitu hanya sebesar 11%, sehingga pangsa pasar Perseroan naik menjadi 31,7% dari 30,9% di tahun 2007. Pencapaian yang sangat memuaskan ini didorong oleh permintaan yang kuat di sektor swasta (perumahan dan gedung bertingkat), terutama pada semester pertama tahun 2008. Perseroan telah membuktikan kemampuannya untuk memproduksi dan mendistrisbusikan produknya ke pasar, terutama di pasar utamanya, pada saat yang tepat.
Perseroan menurunkan volume penjualan ekspornya sebesar 39% menjadi 2,3 juta ton di tahun 2008 dari 3,8 juta ton di tahun 2007 untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Oleh karena itu, total volume penjualan Perseroan hanya tumbuh sebesar 1% menjadi 14,7 juta ton (tahun sebelumnya: 14,6 juta ton)
Kenaikan biaya energi yang luar biasa memberikan tekanan pada biaya produksi Perseroan.
Perhatian utama Perseroan terpusat pada pengelolaan biaya energi yaitu sekitar 50% dari biaya produksi. Dengan harga minyak mentah dan batu bara, yang naik ke level tertinggi di bulan Juli 2008, Indocement harus menanggung biaya energi yang sangat tinggi, meskipun Perseroan memperoleh keuntungan dari sebagian konsumsi batu bara yang diperoleh dengan harga kontrak yang lebih rendah sepanjang tahun 2008. Untuk mengimbangi sebagian dari kenaikan biaya energi yang sangat tinggi, Perseroan terus melakukan berbagai efisiensi biaya dan sebagai hasilnya, biaya pokok pendapatan per ton hanya naik sebesar 25% (biaya energi per ton semen melonjak sebesar 39%).
Kenaikan laba usaha, EBITDA, dan laba bersih yang signifikan
Untuk mengimbangi kenaikan biaya energi yang signifikan serta didukung oleh permintaan dalam negeri yang kuat, Perseroan secara bertahap telah berhasil menaikkan harga jual domestiknya. Pada akhir tahun 2008, harga jual domestik rata-rata lebih tinggi 24% dibandingkan tahun 2007. Meskipun kenaikan harga itu tetap jauh lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan biaya energi, pendapatan bersih Perseroan naik 34% menjadi Rp9.780 miliar dari Rp7.324 miliar yang dicapai pada tahun 2007 berkat volume penjualan domestik yang kuat seperti telah disebutkan di atas. Marjin laba kotor juga naik menjadi 41,1% dari 37,7%. Biaya pengangkutan dan penjualan naik sebesar 37% sejalan dengan peningkatan volume penjualan dan tingginya biaya transportasi yang disebabkan oleh kenaikan harga BBM. Walaupun demikian, laba usaha meningkat sebesar 54% menjadi Rp2.460 miliar (tahun sebelumnya: Rp1.593 miliar). Dengan demikian, margin laba usaha membaik menjadi 25,2% dari 21,8%. EBITDA juga meningkat sebesar 42% menjadi Rp3.059 miliar (tahun sebelumnya: Rp2.158 miliar). Sementara itu, marjin EBITDA tumbuh dari 29,5% menjadi 31,3%.
Pada bulan September 2008 Perseroan telah membayar lebih cepat hutang kepada HC Finance BV sebesar USD100 juta. Oleh karena itu, beban bunga dan beban keuangan lainnya turun ke Rp124 miliar dari Rp206 miliar pada tahun 2007. Namun demikian, rugi kurs meningkat dari Rp32 miliar menjadi Rp73 miliar yang disebabkan oleh depresiasi Rupiah.
Dengan demikian, laba bersih meningkat sebesar 78% dari Rp980 miliar menjadi Rp1.746 miliar.
Proyek Mekanisme Pembangunan Bersih yang Sukses
Pada 13 Juni, Perseroan menerima pembayaran pertama dari Bank Dunia untuk penjualan 80.967 CERs (Certified Emission Reduction/Unit Pengurangan Emisi yang Disertifikasi). Pembayaran CERs ini sehubungan dengan Proyek Bahan Bakar Alternatif yang dilaksanakan oleh Perseroan selama periode tahun 2005 sampai dengan akhir Juli 2007.
Perseroan menjadi perusahaan pertama di Indonesia yang menerima pembayaran dari Bank Dunia. Perseroan memperkirakan akan dapat menghasilkan 6-7 juta ton CERs sampai tahun 2012.
Neraca Keuangan yang Kuat dan Sehat
Saldo hutang Perseroan pada akhir 2008 hanya USD75 juta, yang terdiri dari hutang kepada HC Finance BV sebesar USD50 juta dan pinjaman “revolving loan” kepada Standard Chartered Bank dan RBS sebesar USD25 juta.
Sejak masuknya HeidelbergCement Group sebagai pemegang saham utama Perseroan pada tahun 2001, strategi keuangan Perseroan adalah mengurangi rasio pinjaman terhadap ekuitas ke tingkat yang lebih terkendali. Perseroan sangat berhasil dalam usaha ini. Pada akhir tahun 2008, rasio gearing bersih hanya 0,3%, menurun dari 15,9% di akhir 2007. Rasio pinjaman bersih terhadap EBITDA juga mencapai level terendah di 0,0 dibandingkan dengan 0,5 pada tahun sebelumnya. Sementara itu, EBITDA terhadap Net Interest Cover meningkat hampir tiga kali lipat ke 33,7 dari 11,3, sehingga memberikan keleluasaan kepada Perseroan untuk melakukan belanja modal melalui pinjaman pada saat yang tepat jika Perseroan memutuskan untuk melakukannya.

Perlambatan Rencana Ekspansi dan Investasi
Pada awal tahun 2008, Perseroan telah memulai dua proyek cement mills baru di Pabrik Cirebon yang akan menambah kapasitas sebesar 1,5 juta ton semen dan diperkirakan akan siap beroperasi pada akhir 2009. Selain itu, konversi dari diesel ke gas (dual fuel) untuk pembangkit listrik dengan kapasitas 2 x 15 MW di Pabrik Citeureup telah selesai dilaksanakan pada bulan Oktober 2008.
Namun, dengan terjadinya krisis keuangan global pada kuartal ketiga 2008, Perseroan telah memutuskan untuk lebih seksama dalam melakukan pengembangan usaha, memperlambat dan mengurangi rencana investasi yang baru.
Hingga akhir tahun, telah diperkirakan bahwa penjualan yang sangat kuat di tahun 2008 tidak dapat terus berlanjut pada tahun 2009. Karena lemahnya kondisi pasar domestik dan ekspor saat ini, Perseroan memperkirakan kapasitas saat ini lebih dari cukup untuk periode 2-3 tahun mendatang. Oleh karena itu, Perseroan memutuskan untuk menunda rencana investasi ke depan untuk meningkatkan kapasitas.
Daniel Lavalle selaku Direktur Utama Perseroan menyatakan:
"Krisis keuangan global pada tahun 2008 telah meluas dan resesi ekonomi telah terjadi di Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Australia dan Singapura, yang semua merupakan mitra dagang utama dari negara-negara Asia lainnya termasuk Indonesia. Menguatnya pasar komoditas global yang mendorong permintaan semen domestik ke tingkat tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya di tahun 2008 saat ini telah menurun dan diperkirakan kondisi tersebut tidak dapat segera pulih. Karena itu, kami telah mengantisipasi kemungkinan penurunan permintaan semen domestik (pertumbuhan negatif sebesar minus 6%). Dengan neraca keuangan yang kokoh dan posisi kas yang kuat dari hasil operasi tahun 2008, Perseroan akan lebih seksama dalam mengelola keuangan, mengontrol biaya dengan ketat dan menunda seluruh investasi yang dirasakan saat ini belum perlu dilakukan, untuk memberikan landasan bagi kegiatan operasi di tahun 2009.”
Jakarta, 24 Maret 2009
Untuk informasi lebih lanjut, mohon menghubungi: Christian Kartawijaya –Direktur Keuangan Dani Handayani – Corporate Secretary
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Wisma Indocement Lantai 8 Jl. Jenderal Sudirman Kav.70-71 Jakarta 12910 Telepon : (021) 2512121 Faksimili : (021) 2510066
Print this page
|